Kamis, 15 Mei 2014

ANALISIS MAKNA DARI SIMBOL – SIMBOL DALAM BUDAYA BALI

2 komentar
Assalamualaikum...

Bali merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang juga adalah nama pulau yang menjadi bagian dari provinsi tersebut. Kebudayaan Bali mendapat pengaruh kuat kebudayaan India. Nama Balidwipa (Pulau Bali) ditemukan di berbagai prasasti, di antaranya Prasasti Blanjong. menarik sekali jika kita membahas Bali dengan kebudayaannya yang sangat kental dan khas. Adapun makna apa saja yang terkandung dari setiap simbol - simbol umum dalam kebudayaan Bali yang memiliki beragam bahasa non - verbal? dapat kita lihat dari analisis berikut ini.



Makna dan Fungsi Bunga dalam Persembahyangan
-      Makna
Bunga, disamping dipergunakan sebagai sarana persembahyangan juga memiliki arti sebagai lambang persembahyangan yang tulus ikhlas dan suci serta melambangkan sifat maha cinta kasih dari Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, bunga itu sendiri adalah lambang-lambang dari keagamaan. Ketika bunga dirangkai menjadi sebuah sesajen Canang hendaknya warna bunga itu sendiri disesuaikan dengan dimana hendaknya warna yang bersangkutan arahnya berada. Misalnya, Pancawarna itu sendiri. Bunga dengan Warna merah di selatan, Warna gelap (hitam/ungu) di utara, warna putih di timur, warna kuning di barat dan di tengah adalah kombinasinya. Letak warna bunga tersebut juga menandakan Dewa dengan warna apa yang berstana di arah itu. Ini aku kasih linknya: klik Dewata Nawa Sanga

Dalam agama Hindu, bunga memiliki arti sebagai lambang kesucian sehingga diusahakan memakai bunga yang segar, bersih(suci), indah dan harum. Jika dalam persembahyangan tidak ada kawangen, maka dapat diganti dengan bunga. Menurut Mangku Gede Darsa, pemangku Pura Parahyangan Jagat Kartta Gunung Salak Bogor, kawangen berasal dari kata kewangi (keharuman) yang menunjukkan cinta harum kita kepada Hyang Widhi. Beliau juga menambahkan bahwa kawangen juga menyimbolkan alam bhuana agung, seperti bulan, matahari dan bintang. Bentuknya yang segitiga menunjukkan apa yang kita mohon menuju pada diri kita. Bunga memiliki arti sebagai lambang/nyasa, kedamaian, ketulusan hati. Pada sebuah canang bunga akan ditaruh di atas sebuah sampian uras, sebagai lambang/nyasa di dalam kita menjalani roda kehidupan ini hendaknya selalu dilandasi dengan ketulusan hati dan selalu dapat mewujudkan kedamaian bagi setiap insan.

Bunga telah menjadi sarana penting dalam persembahyangan umat Hindu sejak lama. Bunga juga memiliki arti penting bagi masyarakat Hindu sejak lampau. Banyak bukti-bukti lontar, kekawin ataupun kitab yang menyebutkan arti penting dari bunga itu sendiri. Adapun bukti-bukti, tersebut antara lain:

Yang pertama adalah bunga sebagai arti atau lambang restu Tuhan. Hal tersebut terdapat dalam kekawin Ramayana, ketika Sang Rama sebagai Awatara Wisnu, berperang melawan Rahwana, dan Rama mandapat Restu dari Dewa-dewa, yaitu dengan menghujani bunga wangi pada Rama. Hal serupa juga terjadi pada Arjuna ketika bertapa untuk mendapatkan panah Pasopati untuk mengalahkan Korawa. Arjuna mendapat restu dari Dewa Siwa dengan cara menghujani Arjuna dengan bunga, yang dikenal dengan istilah puspa warsa yang disebutkan dalam kekawin Arjuna Wiwaha.

Dalam Weda Pangasthana, Tuhan juga dilambangkan sebagai bunga. Adapun bunyi slokanya adalah sebagi berikut:
            Om puspa lingga maha devyam, maha pataka nasanam,
            Somastanam sthito dewam lalata Brahma sarwapi.
Artinya:
Oh, Hyang Widhi yang berbadan bunga, sangat suci tiada ternoda, maha pelebur dari pada dosa-dosa, Hyang Widhi berdiri di tempat soma dan di dahi para pendeta(brahmana).

Kembali pada bunga sebagai perlambang dari keagamaan. Yang kedua bunga adalah lambang dari jiwa(roh) dan alam pikiran. Misalnya, dalam upacara kematian umat Hindu di Bali, dalam perjalan mngusung mayat ke kuburan (setra), di taburkan “sekar ura” (campuran bunga uang kepeng dan beras berwarna kuning) sebagai lambang ungkapan perasaan ketulusikhlasan hati untuk berpisah dan melepaskan orang yang telah meninggal untuk kembali ke akhirat. Begitu pula, ketika keluarga korban yang meninggal melakukan persembahyangan kepada korban menggunakan bunga pada ujung kedua cakupan tangannya melambangkan ketulusikhlasan keluarga untuk melepas kepergian korban dan mendoakan korban agar atma si korban dapat kembali pada Tuhan.

-      Fungsi
Untuk melakukan persembahyangan perlu sarana persembahyangan. Sarana persembahyangan meliputi dua bagian, yaitu:
-      Sarana yang berwujud benda (material)
-      Sarana yang bukan benda (non material)

Sarana yang bukan benda (non material), antara lain: mantra-mantra atau doa, lagu-lagu pemujaan, persembahan ilmu pengetahuan dan tentunya keikhlasan. Sarana yang berwujud benda (material) meliputi: air, api(dupa), bunga, daun dan buah. Masing-masing sarana tersebut memiliki fungsi dan arti tersendiri. Misalnya bunga, bunga memiliki dua fungsi penting.

Pertama, berfungsi sebagai simbol Tuhan(Siwa), sebagai simbol Siwa, bunga di letakkan tersembul pada puncak cakupan kedua belah telapak tangan pada saat menyembah. Setelah selesai menyembah, bunga tadi biasanya diletakkan di atas kepala atau diselipkan di kedua telinga.

Kedua, bunga dalam fungsinya sebagai sarana persembahyangan semata-mata digunakan sebagai pelengkap sarana upacara persembahyangan yang sangat penting. Bunga tersebut digunakan untuk mengisi ataupun menghiasi sesajen yang akan dipersembahkan atau ditujukan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa ataupun roh suci leluhur. Bunga sebagai salah satu unsur sarana persembahyangan yang digunakan oleh umat Hindu bukan dilakukan tanpa dasar dari kitab suci. Dalam kitab suci umat Hindu, Bhagavadgita bab.IX sloka 26, disebutkan unsure-unsur pokok persembahan yang ditujukan pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa adalah bunga, di samping daun, air dan buah-buahan.

Adapun bunyi sloka tersebut adalah:

                        Pattram puspam phalam puspam phalam toyam
                        Yome bhaktya prayaccati
                        Tad aham bhaktyu pakrtam
                        Asnami prayatat asnamah.
Artinya:
Siapapun yang dengan kesujudan mempersembahkan padaKu daun, bunga, buah-buahan atau air, persembahan yang didasari oleh cinta dan keluar dari lubuk hati yang suci, Aku terima.

Dari penjelasan Sri Kresna sebagai Awatara Wisnu mengenai unsure-unsur pokok dari lambang persembahyangan itulah berkembang menjadi bentuk sesajen, yang didasari oleh kesucian dan keikhlasan hati serta cinta kasih. Dasar inilah yang dikembangkan oleh para Rsi dan para ahli agama serta para seniman agama untuk mewujudkan berbagai Tattwa Agama ke dalam bentuk-bentuk upakara. Dari yang berbentuk amat sedehana hingga yang berbentuk besar dan megah penuh arti. Inilah yang dimaksudkan dengan persembahyangan yang didasarkan pada ilmu pengetahuan atau dengan kata lain, membuat sesajen atau upakara tidak boleh sembarangan, asal megah dan meriah saja, tapi harus diwujudkan berdasarkan sastra (ilmu pengetahuan) bersangkutan yang telah dikembangkan.

Simbol Dan Makna Sabung Ayam Di Bali
Sabung ayam adalah kegiatan yang dilakukan masyarakat Bali dalammencari keuntungan yang besar dalam hal materi. di dalam sabung ayam tersirat makna bahwa yang bertarung adalah manusianya atau pemilk ayam jago tersebut. Usai pertandingan, yang memenangkan pertandingan maka sang ayamakan dibawa pulang kerumah sang pemenang dan dimakan bersama. Bagi merekayang telah kalah dalam sabung ayam akan merasa sangat malu dan padamasyarakat karena harga dirinya telah jatuh terinjak-injak.

Hal utama yang ditekankan dalam sabung ayam orang Bali bukan terletak pada uang atau taruhannya, melainkan isi dari pertandingan sabung ayam tersebut meskipun uang mempunyai peran yang sangat penting. Isi atau makna yang tersirat dalam pertandingan sabung ayam itu adalah perpindahan hierarkhi status orang Bali ke dalam susunan sabung ayam. Dalam hal ini sabung ayam dilihat sebagai sebuah indikator dari kepribadian laki-laki yang dijunjung tinggi kedudukannya dalam masyarakat.

Ayam jantan yang dipakai dalam sabung ayam dicirikan sebagai pengganti kepribadian si pemilik ayam jago dan sabung ayam dengan sengaja dibentuk menjadi sebuah simulasi matriks sosial, sistem yang berlaku dari kelompok-kelompok yang besilangan, bertumpang tindih. Pertandingan tersebut, menurut Geertz, hanya ada di antara orang-orangyang sejajar dan dekat secara pribadi. Tradisi sabung ayam di Bali secara besar-besaran dilakukan pada saat sebelum hari raya “nyepi”. Di dalam sabung ayam ini terdapat simbol-simbol yang memiliki makna-makna tertentu.

Di dalam masyarakat Bali jago memiliki simbol jantan par excellence.Sabung, kata untuk ayam jantan dipakai secara metaforis untuk mengartikan pahlawan, serdadu, pemenang, man of parts, calon politis, jejaka, pesolek, pembunuh perempuan, atau orang kuat. Ayam jantan adalah ungkapan simbolis atau ungkapan kebesaran pemiliknya sendiri, yakni ego lelaki yang narsistis terungkap dalam pengertian Aesopia.

Dalam cara sabung ayam terdapat dua jenis taruhan, pertama jenis taruhan pusat dan kedua jenis taruhan pinggiran disekeliling ring sabung ayam. dalam permainan sabung ayam, pertaruhan pada masyarakat Bali lebih dianggap dalam arti untuk kenikmatan dan kesakitan, kebahagiaan dan ketidakbahagiaan.

Makna Saput Poleng Kain Unik khas Budaya Bali 
Saput Poleng adalah kain bercorak kotak-kotak persegi dengan warna hitam-putih seperti papan catur. kain yang disebut saput poleng ini sudah merupakan bagian dari adat dan hidup dalam kehidupan adat  masyarakat Bali . Dimana Saput poleng bisa ditemukan hampir di setiap sudut tempat di Bali, baik di pura, di patung-patung, di bangunan, kawasan wisata, bahkan dipakai sebagai busana dalam acara khusus. Bagi orang Bali, kain yang disebut “saput poleng” memiliki fungsi khusus dan istimewa. Ada makna filosofis pada kain ini.
Makna filosofis Saput poleng merupakan refleksi dari kehidupan kita yaitu baik dan buruk  yang dalam Hindu dikenal dengan istilah RwaBhineda adalah dua sifat yang bertolak belakang, yakni hitam-putih, baik-buruk, atas-bawah, suka-duka dan sebagainya.

Arti Saput Poleng dalam bahasa Bali ‘saput’ artinya selimut, dan ‘poleng’ artinya belang. Selimut belang  yang bercorak kotak-kotak hitam-putih ini merupakan khas dari Bali. Dalam kontek adat di Bali, ‘saput’ juga bermakna busana, yang dalam bahasa Bali halus disebut ‘wastra’.  Sehingga ‘saput poleng’ diartikan sebagai ‘busana bercorak kotak persegi warna hitam-putih yang dipergunakan secara khusus’.

Menurut tradisi ada tiga jenis Saput poleng yaitu Salut Poleng Rwabhineda, Saput Poleng Sudhamala dan Saput Poleng Tridatu. Saput poleng Rwabhineda berwarna putih dan hitam. Warna terang dan gelap sebagai cermin baik dan buruk. Saput poleng Sudhamala berwarna putih, hitam dan abu. Abu sebagai peralihan hitam dan putih,. Artinya menyelaraskan yang baik dan buruk. Saput Poleng Tridatu berwarna putih, hitam dan merah. Merah simbol rajas (keenergikan), hitam adalah tamas (kemalasan), dan putih simbol satwam (kebijaksanaan, kebaikan).

Saput Poleng sebagai simbul masyarakat Hindu di Bali digunakan oleh para pecalang, patung penjaga pintu gerbang, dililitkan pada kulkul/kentongan, dikenakan oleh balian, dihiaskan pada tokoh-tokoh itihasa (Merdah, Tualen, Hanoman, dan Bima), dikenakan oleh dalang wayang kulit ketika melaksanakan pangruwatan/penyucian, dililitkan pada pohon-pohon tertentu, atau dililitkan pada tempat suci yang diyakini berfungsi sebagai penjaga. Pada intinya Saput Poleng digunakan sebagai simbol penjagaan.

Penggunaan ‘Saput Poleng’ Kain Kotak Hitam-putih di Bali ini khusus dalam artian: tidak dipergunakan di sembarang tempat dan sembarang acara atau kesempatan. Melainkan hanya ditempat khusus dan acara khusus saja. Saput Poleng Di Pura Pura di Bali terdiri dari beberapa bangunan pura yang masing-masing disebut ‘pelinggih’. Kelompok bangunan suci umat Hindu di Bali ini, memiliki tata-letak yang khas yang terdiri dari tiga wilayah:

(1) wilayah paling dalam disebut ‘jeroan’ yang murapakan mandala utama
(2) wilayah tengah disebut ‘jaba-tengah’ yang merupakan mandala madya
(3) wilayah luar disebut ‘jabaan’ yang merupakan mandala paling luar.

Saput poleng ini khusus dipergunakan untuk bangunan pura termasuk patung yang berada di wilayah paling luar. Selain di pura, juga dipergunakan sebagai umbul-umbul dan payung yang ditancapkan di wilayah pura paling luar juga.

Saput Poleng di Pekarangan dan Rumah di Bali. Pekarangan dan rumah orang Bali pun menggunakan tata ruang dan tata letak tiga mandala seperti pura dalam, tengah dan luar.  Saput poleng diperuhanakan di wilayah paling luar, di pura dan patung yang terletak di pekarangan paling luar, biasanya gerbang rumah.

Saput Poleng Sebagai Busana Orang Bali -  Saput poleng juga dipergunakan sebagai busana untuk orang Bali itu sendiri. Saput poleng ini khusus dipergunakan hanya pada saat sedang melaksanakan tugas adat ,sehubungan dengan upacara dan upakara di wilayah luar baik itu di pura, rumah atau desa adat. Pecalang misalnya, adalah orang Bali yang sedang melaksanakan tugas adat untuk mengamankan suatu upacara di wilayah luar. Oleh sebab itu para pecalang biasanya menggunakan saput poleng kain kotak-kotak hitam putih sebagai kain, baju dan ikat kepala (udeng/destar).  salah satu provinsi di indonesia. 

2 Buah Komentar Untuk Post!

  1. Anonim says:

    kurang lengkap gan...

Berikan Komentar Anda!

CARI POST